Fakta Miris Dibalik Kepopuleran Kopi Luwak – FAJAR health
News Update

Fakta Miris Dibalik Kepopuleran Kopi Luwak

Foto: outwardon.com

FAJAR.CO.ID – Kita tahu bahwa kopi termahal di dunia saat ini adalah kopi luwak. Kopi yang merupakan hasil proses fermentasi yang terjadi di dalam perut luwak ini memiliki aroma yang khas dan telah mendapat pengakuan dunia.

Namun banyak yang tidak mengetahui bahwa dalam proses pengumpulan biji kopi hasil fermentasi yang dilalui oleh binatang omnivora di penangkarannya itu terlihat begitu tragis.

Dilansir Huffingtonpost.com.au, Rabu (24/8/201) kemarin, sekelompok peneliti Wildlife Conservation Research Unit dari Oxford University dan World Animal Protection menilai bahwa penangkaran yang dilakukan para penghasil kopi luwak, khususnya di kawasan Bali, masih jauh dari kata layak.

Para peneliti menilai kualitas ukuran kandang dan kebersihan dari penangkaran yang dibuat untuk menarik minat wisatawan asing itu telah telah gagal memenuhi standar yang dibutuhkan untuk sebuah penangkaran.

“Beberapa di antara kandang luwak ini sangat kecil, kami menyebutnya sarang kelinci. Kandang-kandang ini begitu kotor, penuh dengan urine dan kotoran luwak dimana-mana,” kata salah satu peneliti bernama Neil D’Cruze.

Para peneliti asal Inggris itu juga menyebutkan bahwa kondisi luwak yang berjumlah sekitar hampir 50 ekor dari beberapa penangkaran yang ada di Bali, terlihat begitu kurus, lantaran hanya diberi makan biji kopi. Padahal, luwak yang hidup di alam bebas, selain gemar memakan kopi, juga suka memakan buah berry, mangga, reptil dan serangga.

Ditemukan juga oleh para penelit beberapa luwak yang terlihat mengalami obesitas, diduga karena keterbatasan ruang gerak yang mereka miliki dalam kandang yang sempit tersebut.

Dan fakta yang paling mengenaskan adalah para luwak ini berdiri, duduk dan tidur diatas kotorannya sendiri, sekali lagi, karena keterbatasan ruang gerak dan tidak adanya akses terhadap air bersih yang dapat digunakan luwak penangkaran ini.

“Berdiri di antara kotoran itu akan menyebabkan gangguan kulit. Mereka (luwak) tidak tahu harus kemana lagi untuk menghindari kotoran yang ada,” lanjut Cruz.

Ia juga menambahkan bahwa kebisingan yang diakibatkan oleh bunyi kendaraan dan para turis yang datang ke lokasi penangkaran juga menambah stress hewan yang hanya ditemukan di kawasan Asia Tenggara dan selatan gurun Sahara di Afrika itu, karena luwak adalah jenis hewan nokturnal atau hewan yang biasa beraktifitas di malam hari dan tidur pada siang hari.

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top