Penyakit Langka Ini Bernama Sindrom Mayat Hidup – FAJAR health
News Update

Penyakit Langka Ini Bernama Sindrom Mayat Hidup

Foto: medicaldaily.com

FAJAR HEALTH – Sindrom mayat hidup atau juga dikenal dengan nama Cotard Syndorme, diambil dari nama neurolog yang pertamakali menjelaskan kondisi kesehatan ini pada tahun 1882.

Sindrom mayat hidup adalah gangguan kejiwaan dimana penderitanya meyakini bahwa dirinya kehilangan sebagian anggota tubuhnya atau bahkan merasa dirinya tidak lagi hidup.

Dilansir Medical News Today, penderita sindrom ini biasanya menghindari aktifitas makan dan minum, lantaran merasa tidak memerlukannya. Adapun kebiasaaan aneh lain yang ditunjukan penderitanya adalah seperti sering berkunjung ke pemakaman, agar merasa lebih dekat dengan kematian.

Penyebab dari penyakit kejiwaan yang langka ini sendiri masih belum dapat diketahui. Hanya saja diketahui bahwa sindrom mayat hidup biasanya juga ditemukan pada mereka penderita schizophrenia (mereka yang kerap berhalusinasi, seolah melihat dan mendengar hal-hal yang tidak nyata) juga pada mereka penderita mood disorder.

Dalam sebuah kasus yang dirilis pada jurnal Psychiatry di tahun 2008, seorang wanita berusia 53 tahun asal Filipina kerap mengeluhkan bau badannya sendiri yang tercium seperti bau daging busuk. Ia pun meminta kepada keluarganya untuk diantar ke rumah mayat dan tinggal bersama mayat orang yang telah mati. Ia pun berakhir di rumah sakit jiwa atas permintaan keluarga.

Pada kasus lain, seorang pria yang dikenal bernama Graham yang meyakini bahwa otaknya telah berhenti berfungsi. Ia pun terlibat dalam upaya bunuh diri dengan mamasukan peralatan listrik ke dalam bak mandi, namun gagal menemui ajalnya.

Para peneliti yang kemudian menangani kasus Graham yang dirilis pada jurnal Cortex di tahun 2013 lalu menemukan fakta menarik dari otak pria tersebut.

“Selama 15 tahun mengamati scan PET, tidak pernah saya temukan orang (dalam kondisi Graham) mampu berdiri. Fungsi otak Graham menggambarkan kondisi seseorang yang dalam keadaan tertidur atau dalam pengaruh anesthesia. Melihat ada yang terbangun seperti ini adalah unik bagi saya,” jelas pimpinan studi Steven Laureys dari University of Liège di Belgia.

Sekarang, berkat bantuan dari psikoterapi dan pengobatan medis yang telah dilaluinya, Graham dikabarkan dalam keadaan yang lebih baik dari pertamakali ia ditemukan. Sayangnya, dunia kedokteran masih belum mampu menemukan obat dalam kasus gangguan kesehatan yang satu ini.

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top