News Update

LIPI Pamerkan Dua Penelitian untuk Penderita Kanker

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ikut menyemarakkan peringatan Hari Kanker Sedunia yang jatuh kemarin, Senin (4/2). Pada kesempatan ini mereka menunjukkan dua penelitian terkait kanker. Mereka ingin ikut berkontribusi dalam penanganan kanker di tanah air.

Karya pertama disampaikan oleh peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Desriani. ’’Ini hasil penelitian tim,’’ katanya.

Pada kesempatan itu Desriani membawa kit atau perlengkapan untuk mendeteksi sebuah kanker dipicu ekspresi berlebihan human epidermal growth factor receptor-2 atau HER-2 atau bukan.

Dia menuturkan memilih mengkhususkan untuk mengetahui sebuah kanker itu HER-2 atau bukan bukan tanpa alasan. Menurut Desriani, 20 persen kanker dengan pemicu HER-2 dialami pada penderita kanker payudara. Dia menjelaskan Kit HER-2 yang dia teliti tersebut, bukan untuk pencegahan. Tetapi diperuntukkan bagi orang yang sudah terkena kanker.

Menurut dia orang yang sudah positif terkena kanker, perlu dideteksi apakah karena HER-2 atau bukan. Hasil deteksi tersebut diperlukan untuk tindakan terapi berikutnya. ’’Untuk pengujiannya membutuhkan jaringan pada penderita kanker,’’ jelasnya.

Dalam waktu beberapa jam, sudah bisa diketahui hasil pendeteksiannya. Apakah si pasien itu kanker akibat HER-2 atau lainnya.

Hasil penelitian berikutnya disampaikan oleh peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Ratih Pangestuti. Dia melakukan penelitian bersama sejumlah rekannya, untuk mencari bahan pembuatan obat anti kanker. Dia mengkhususkan bahan dari laut.

Menurut Ratih bahan alam yang ada di laut ternyata memiliki zat aktif untuk digunakan sebagai anti kanker. ’’Meskipun kandungan zat aktifnya sedikit,’’ katanya. Dia mengatakan kandungan zat aktif untuk kanker itu di antaranya ada di rumput laut, teripang, dan ikan.

Ratih menjelaskan penelitian untuk menarik zat aktif sebagai bahan obat anti kanker tersebut bekerjasama dengan perusahaan farmasi dari Spanyol. Menurutnya karena masuk kategori obat, hasil penelitiannya butuh waktu lama untuk bisa sampai dikomersilkan.

’’Perkiraan saya butuh waktu 10 sampai 20 tahun,’’ jelasnya.

Dia mengatakan bahwa untuk obat, harus melewati berbagai tahapan. Saat ini penelitiannya masih masuk tahap preklinik trial. Selain butuh waktu panjang, juga perlu kerjasama dengan lembaga lain.

(JPC)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!